#OPINI, Antara LGBTQ+ dan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Disclaimer dulu, aku bukan seorang ulama atau tokoh penting, hanya seseorang yang suka menulis dan menjadi pendengar dari berbagai sisi tetapi tetap berusaha untuk memegang agama Islam di setiap lini kehidupan.
Kalau ditanya apakah aku setuju untuk memanusiakan LGBTQ+? Ya.
Lalu, apakah aku perlu menggunakan adab dan sopan santun saat berinteraksi dengan LGBTQ+? Tentu.
Pertanyaannya, kenapa? Karena mereka juga sama-sama manusia.
Lalu, apakah aku setuju ketika LGBTQ+ ini terkesan ingin meromantisasi dan menyebarluaskan pengaruhnya? Tidak, tetapi aku juga tidak akan mengintervensi.
Kenapa?
Karena ini sudah ke ranah belief, atau kepercayaan.
Sama seperti pendeta yang berdakwah di internet dan mengajak untuk menuhankan Yesus.
Apakah aku setuju dengan pendeta tersebut? Tidak, tetapi aku juga tidak akan mengintervensi.
Sepertinya, beberapa minggu ke belakang, aku pernah bertanya ke AI mengenai, bagaimana aku seharusnnya bersikap di sekitar LGBTQ+ sebagai seorang muslim?
Karena yang aku tahu, tindakan-tindakan LGBTQ+ ini tidak dibenarkan dalam agama Islam.
Lalu AI tersebut menjawab, tetaplah bersikap seperti biasa dan bila mereka tidak mengangkat topik LGBTQ+, tidak perlu membahasnya, lalu apabila kamu merasa keberatan untuk bergaul, maka tidak apa-apa untuk menjaga jarak.
Mungkin kalau aku bisa tambahkan, ketika kita menjaga jarak, kita juga tidak lantas membenci atau menghina mereka di belakang.
Tetapi, apa pesan dariku untuk LGBTQ+ yang beragama Islam?
Ini adalah pesan yang tidak tertuju kepada siapapun, tetapi jika ada yang meminta maka pesanku adalah:
1. Aku merasa bahwa menjadi seorang muslim ditambah LGBTQ+ adalah ujian, sama seperti orang-orang yang kecanduan alkohol tetapi seorang muslim. Sehingga pendapatku, tidak menyebarluaskan bahwa kamu adalah seorang LGBTQ+ dan pecandu alkohol adalah tindakan yang sudah dianjurkan oleh Allah SWT, untuk mencegah penyebaran ajakan secara tidak langsung yang dilarang agama. Kecuali, jika kamu memang ingin meminta bantuan kepada orang lain dan perlu untuk memberitahukan kondisimu seperti apa.
2. Menurutku, memiliki kecenderungan kepada sesama jenis itu masih berada didalam ranah pribadi yang bisa dirahasiakan, tetapi ketika sudah melakukan sesuatu yang berkaitan dengannya, seperti mengajak sesama jenis untuk berpacaran atau mendukung LGBTQ+, itu memang sudah masuk ke ranah tindakan yang dilarang agama Islam. Sama seperti berpacaran dengan lawan jenis. Mengapa banyak ulama yang mengharamkan pacaran, baik itu dengan sesama jenis atau lawan jenis? Menurutku, mungkin karena batasnya kabur, antara yang berpacaran hanya mengobrol saja sampai ke yang berpacaran dan melakukan zina. Sehingga, ketidakjelasan itu lah yang menjadikan berpacaran ini haram untuk memudahkan muslim itu sendiri menghindari zina.
Selain memang sebenarnya berdua-duaan itu sendiri sudah dilarang agama, yakni berkhalwat.
Atau jika menurut ustadz Felix, berpacaran adalah salah satu gerbang menuju zina karena ketika dua orang sudah melibatkan perasaan dan memvalidasinya satu sama lain, maka yang terjadi selanjutnya bisa mengarah kepada zina dengan lebih mudah, meskipun awalnya hanya berpegangan tangan saja.
Dan menurutku, dari sisi medis-pun perzinaan diluar pernikahan, atau seks bebas yang dilakukan LGBTQ+ bisa mengakibatkan berbagai penyakit atau disfungsi, seperti ISK atau lubang anus yang maaf, tidak bisa menutup dengan sempurna. Atau, jika seks bebas itu dilakukan dengan lawan jenis pun, potensi penyebaran penyakit kelamin lebih tinggi.
Sepertinya, memang ada hikmah yang besar dibalik menutupi dosa kita dari orang lain karena ketika kita ingin berubah, setidaknya tekanan sosial tidak perlu kita hadapi, tetapi kalaupun sudah terlanjur diketahui lalu kita berubah, itu juga bisa menjadi hal baik karena bisa saja menginspirasi orang lain untuk berhijrah juga.
3. Ada yang menarik dari video pertama dialog kak Indah G dan ustadz Felix mengenai apakah LGBTQ+ ini alami atau dipupuk dan sepertinya, aku lebih setuju yang dipupuk karena jika mengambil contoh seseorang yang kecanduan alkohol, berarti sebelum ia kecanduan, ia mencobanya terlebih dahulu? Serupa dengan yang LGBTQ+, mungkin awalnya melihat perilaku LGBTQ+ dulu dari media, entah itu film misalnya, atau series. Kemudian merasa nyaman dan akhirnya merasa candu. Karena jika membicarakan alami tidaknya. Secara biologis, semua manusia memiliki kebutuhan seksual, tetapi apakah menjustifikasi kita untuk melakukannya dengan yang bukan pasangan kita di pernikahan sah secara agama Islam? Tidak, bukan?
Bila secara alami memang memiliki kecenderungan orientasi kepada sesama jenis pun, bukankah tidak menjustifikasi untuk berpacaran? Karena ini berlaku bagi yang memiliki orientasi kepada lawan jenis juga.
4. Dan menurutku, kita tidak bisa menilai seseorang itu ahli neraka atau ahli syurga, tetapi kita hanya bisa menilai tindakannya berdasarkan apa yang ada di dalam al-Qur'an dan Hadits, jika benar ya benar, jika salah ya salah. Karena sependek pengetahuanku, mengapa LGBTQ+ tidak diperbolehkan karena akan merusak nasab atau keturunan, salah satu dari konsep Maqashid Syariah (tujuan-tujuan mulia syariat Islam), yang dari semuanya terdapat lima prinsip dasar yang harus dilindungi. Yakni keturunan, harta, agama, jiwa dan akal.
Wallaahua'lam.
Komentar
Posting Komentar