Postingan

#OPINI, Antara LGBTQ+ dan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Disclaimer dulu, aku bukan seorang ulama atau tokoh penting, hanya seseorang yang suka menulis dan menjadi pendengar dari berbagai sisi tetapi tetap berusaha untuk memegang agama Islam di setiap lini kehidupan. Kalau ditanya apakah aku setuju untuk memanusiakan LGBTQ+? Ya. Lalu, apakah aku perlu menggunakan adab dan sopan santun saat berinteraksi dengan LGBTQ+? Tentu. Pertanyaannya, kenapa? Karena mereka juga sama-sama manusia. Lalu, apakah aku setuju ketika LGBTQ+ ini terkesan ingin meromantisasi dan menyebarluaskan pengaruhnya? Tidak, tetapi aku juga tidak akan mengintervensi. Kenapa? Karena ini sudah ke ranah belief, atau kepercayaan. Sama seperti pendeta yang berdakwah di internet dan mengajak untuk menuhankan Yesus. Apakah aku setuju dengan pendeta tersebut? Tidak, tetapi aku juga tidak akan mengintervensi. Sepertinya, beberapa minggu ke belakang, aku pernah bertanya ke AI mengenai, bagaimana aku seharusnnya bersikap di sekitar LGBTQ+ sebagai seorang muslim? Karena yang aku tahu, ...

and suddenly, i don't feel that confident once again

dulu, gw sempet ngejar validasi banget, terutama dari guru-guru makannya maksa buat belajar, biar bisa ikut lomba, bahkan sampe menawarkan diri buat mewakili sekolah lambat laun, di perkuliahan, gw udah ga begitu PD dan menjaga jarak dari dosen-dosen karena gw ngerasa kalo hubungan yang dibangun atas ambisi semata itu tidak akan terasa hangat meskipun ternyata, waktu gw deket sama guru-guru sekolah dulu, mereka yang membuat hubungan itu hangat meskipun awalnya, intensi gw dingin, cuma pengen berprestasi dan merasa diperlukan sama sekolah setelah kerja, gw baru ngerasain lagi kalo lu pengen ada di circle yang hangat, lu juga harus hangat tapi masalahnya, gw bukan tipe orang yang gampang untuk cair, atau bahkan nyenengin orang secara sosial karena gw emang gatau caranya selama ini, kalo ada yang ngajak, baru gw bisa berusaha untuk cair tapi untuk mengawali, gw paling gabisa atau gw emang orangnya gini ya? gw juga gatau karena katanya, orang itu dinamis, bisa berubah bisa jadi sih dan ras...

Menjadi Pekerja

Ketika menengok realita orang-orang di sekitar Sebenarnya, tidak ada yang benar-benar siap dengan tantangan-tantangan yang hadir di tempat kerja Tetapi, mereka hanya mencoba untuk terus hadir dan melangkah dengan kemampuan yang dimiliki Kesimpulannya, tidak pernah ada orang dewasa yang yakin Tetapi, rata-rata dari mereka berusaha untuk menggenggam keyakinan yang dimiliki meski sedikit, ditambah dengan keyakinan orang-orang yang ada di sekitarnya jika ada Terkadang, ketika aku berusaha untuk melihat apa yang terjadi dalam hidup, semua hal memang tidak pernah ada yang pasti Siapa yang tahu masalah apa yang akan muncul esok hari? Bisa masalah pekerjaan Bisa masalah keluarga Bisa masalah finansial dan bisa masalah diri sendiri Tetapi, sebagai manusia yang masih ingin memiliki tempat bersandar yakni Allah SWT Sang Maha Kuat, kenapa memilih "tidak" untuk menghadapi ketidakpastian-ketidakpastian itu? Memang, tidak semua orang di sekitar bisa atau mau mentransfer energi dengan mengaj...

Mau Bagaimanapun, Aku Tetap Manusia

Seringkali, aku menuntut diri untuk menjadi sempurna, padahal mustahil Karena adakalanya, aku akan: - Salah dalam menilai sikap seseorang - Salah dalam memahami apa yang seseorang inginkan - Salah dalam mengambil keputusan Dan lain sebagainya Semakin kesini, aku semakin sadar bahwa diamnya orang-orang yang berada di sekitarku, bukan berarti setuju atau apa yang aku pahami memang benar Bisa saja, banyak dari mereka yang memilih diam karena tidak merasa perlu untuk memberi energi dengan menjelaskan lebih jauh, tidak masalah disalahpahami dan berbagai alasan lainnya Sehingga, kesimpulan yang dapat diambil adalah: "aku adalah manusia, dan manusia memang tidak akan pernah sempurna" Mengusahakan yang terbaik mungkin saja, tetapi selalu benar dalam mengambil keputusan dan memahami sesuatu, sepertinya tidak mungkin...

Netral

Proses pendewasaan yang aku alami ini mulai terasa. Menambah pemahaman yang selama ini rasanya itu-itu saja. Ternyata, hidup ini tidak berhenti disana. Perasaan netral baru saja menyeruak, ketika ada pesan dari orang tua, dosen, story teman, postingan pencapaian siapapun, dan lain sebagainya tidak lagi personal. Dan di titik ini aku bersyukur, bahwa semuanya memang netral, tidak pernah ditujukan untuk apapun dan siapapun, adapun bila benar, niat orang siapa yang tau? kecuali dirinya, orang-orang yang ia beri tau dan Allah SWT. Sebenarnya, konsep ini sudah aku ketahui, tapi baru dialami dan kupahami hari ini.

Benarkah Aku Benar-Benar Menyedihkan?

Ketika memikirkan bahwa orang-orang sudah wisuda. Seringkali, aku merasa sendirian dan ditinggalkan oleh mereka. Padahal, ada yang pindah kampus atau jurusan hingga turun setahun, ada yang sama sepertiku sedang mengerjakan tugas akhir, bahkan ada juga yang baru berkuliah S1 di usia senja, dan itu tidak menyedihkan. Ketika memikirkan bahwa hanya aku satu-satunya yang melakukan kesalahan di tempat kerja, ternyata tidak juga, ada yang melakukan kesalahan dan banyak yang mengevaluasi kinerjanya, dan itu tidak menyedihkan karena tugas manusia memang terus belajar dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ketika aku berpikir untuk mengundurkan diri dari pekerjaan-pekerjaan yang saat ini kupunya. Di sisi lain, ada orang-orang yang memegang pekerjaan-pekerjaan itu dengan erat karena merasa dihargai, dan itu tidak menyedihkan. Ketika aku merasa sedih tidak dipilih menjadi orang yang disukai oleh orang-orang yang kusuka, ada juga orang-orang yang menyukaiku tetapi tidak disukai ol...

Uncertainty

What a privilege to worry about work and thesis while others are struggling with nuclear weapons. What a privilege to be healthy, even though I often get drenched in the rain. What a privilege to have a friend and a colleague who supports you unconditionally.  What a privilege to make people smile even though it's rainy inside.  That "bagaikan kemarau yang panjang" is relatable for me nowadays. Because the uncertainty from my uncertain dreams makes me cry. When I'm not even certain, are those even really my dreams?